Aku
termenung di tengah riuhnya kantin yang dipadati para mahasiswa yang sedang mengisi
perutnya setelah penatnya perkuliahan.
‘Sudah jam makan siang rupanya...’ ucapku
lirih.
Rupanya
aku sudah 2 jam duduk di salah satu sudut kantin ini. Pagi ini aku sudah
berjanji akan menemui dosen pembimbingku, Rika-sensei, begitulah para mahasiswa memanggilnya, yang terkenal akan kedisiplinan waktunya dan sangatlah....eksentrik
dalam berbagai arti, seperti cara mengajar, cara bersikap, bahkan gaya
berpakaiannya. Terlambat sedikit saja, maka akan sulit untuk bisa mengatur
waktu agar bisa bimbingan kembali dengan beliau. Padahal bisa dibilang Rika-sensei
adalah dosen muda, tapi sangat unik karena terkadang, terkadang yaaa.... gaya
mengajarnya kayak dosen senior yang mengajar pada tahun 1970-an.
Tentu
saja, ada alasan tertentu mengapa aku terdiam di kantin selama itu. Aku bukanlah
orang yang bakal betah berlama-lama duduk di kantin sendirian. Aku lebih suka
untuk berdiam diri di kamar sambil membaca komik atau menonton film dari laptop
kesayangan selama berjam-jam daripada harus duduk di tempat seramai kantin
kampus.
Aku—yang
sangat perfeksionis dan sangat menjaga sikap saat di hadapan dosen—untuk
pertamakalinya melakukan kesalahan. Bukan karena aku terlambat datang menemui
beliau, tetapi karena aku tidak sengaja menjatuhkan gelas kesayangan beliau dan
menumpahkan isinya ke tumpukan dokumen beliau –yang terlihat amat-sangat menggunung—
belum selesai dikerjakan saat akan pamit setelah selesai bimbingan. Beliau
berkata bahwa itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Namun, aku tahu
kalau gelas yang tidak sengaja kupecahkan itu merupakan gelas buatan sahabat beliau yang merupakan seniman keramik di
negaranya—yang bahkan kalau kau jual gelas buatannya itu bisa untuk membeli satu
unit motor terbaru— dan beliau sangat menyukai gelas tersebut. Aku tidak mau
menyalahkan beliau yang memilih untuk menggunakan gelas dengan harga yang
fantastis tersebut karena beliau memang menggunakan barang tersebut sesuai
dengan fungsinya. Aku juga tahu beliau bukanlah orang yang akan memajangkan barang
mahalnya sebagai ajang pamer barang mewah ke orang lain. “Ngapain disimpan atau dipajang kalau memang bisa dipakai? Toh teman
saya juga akan senang kalau tahu saya menggunakan gelas buatannya,” ujar Rika-sensei suatu hari saat aku menanyakan
perihal gelas kesayangannya tersebut.
Aku merasa
pundakku ditepuk oleh seseorang saat sedang memikirkan berbagai cara agar bisa
menggantikan gelas kesayangan Rika-sensei.
“Yo,
Sar!”
Aku menoleh
ke arah sumber suara.
“Dian!
Kukira siapa,” ujarku lirih.
“Suram amat dah. Kenapa?” tanya Dian
sambil duduk di samping aku dan mulai menyimpan jajanannya, yang kalau dijumlahkan harganya bisa buat
makan di restoran yang enak di dekat kampus, di meja yang ada di hadapannya.
“Haaaaaaah....”
aku hanya bisa menghela nafas.
Dian,
yang ngeh kalau aku sedang ada
masalah, menawarkan salah satu jajanannya kepadaku.
“Lu pasti belum makan. Nih! Makan! Puding
melon kesukaan elu!” ujarnya sambil menyimpan
puding melon di hadapanku.
“Thanks!” Aku pun mulai menyantap puding
melon tersebut.
---
“So... kenapa wajah lu murung gitu? Kayak abis melakukan kesalahan fatal banget gitu...”
tanya Dian setelah aku selesai makan puding melon favoritku.
Aku
pun menceritakan perihal gelas Rika-sensei
yang tidak sengaja kupecahkan karena kecerobohanku tadi pagi. Dian sama sekali
berkomentar sampai aku benar-benar selesai berbicara. Setelah aku selesai menceritakan
masalah itu, dia mulai berkomentar, “Elah
gitu doang ribet banget lu. Ya gantiin aja sih gelasnya...”
“Yakali
woi. Aku gak punya uang kalau harus
menggantikan gelas dengan harga sefantastis itu.” Sangkalku saat mendengarkan
komentar Dian.
“Yeee...
ga harus yang mahal juga kaleee. Ah, elu ribet
sih orangnya. Hhhh”
“Ya
gimana ya... Kamu tau sendiri aku kayak gimana orangnya...”
“Nah
makanya, nih gue kasih saran. Lu tau sendiri tu dosen pembimbing elu tuh
eksentrik, kasih aja barang yang unik juga. Unik ‘kan gak harus mahal. Yang
penting elu tulus ngasih penggantinya. Gue tau tempat yang
jual barang-barang unik dan sesuai sama selera sensei. Ntar gue temenin dah beli gelasnya. Lu kapan kosongnya? Jangan hari ini ya.” Ujar Dian sambil mulai
membuka kemasan jajanan berikutnya.
‘Setdah Rika-sensei kan dosen pembimbing kamu juga
heh...’ Ujarku dalam hati.
“Hmmm...
boleh juga. Tapi harus yang bisa keliatan mewah ya.” Tantangku saat mendengar
ucapan Dian.
“HAAAAAAAH
dasar perfeksionis. Kalo yang tumpukan dokumen sih... Kayaknya emang harus .” Balas Dian sambil mulai menyantap jajanan
berikutnya. “huum huum nfar hue temenin” lanjutnya.
“Habisin
dulu tuh yang di mulut baru ngomong. Kebiasaan dah.” Ujarku sambil menikmati
jajanan yang Dian bawa.
---
Seminggu
kemudian, setelah insiden gelas pecah, aku kembali membuat janji untuk bertemu
dengan Rika-sensei. Kalau dibilang takut, wah jelas takut banget. Well, daripada dibilang takut, aku rasa
ini lebih tepat kalau disebut malu. Ya... bayangkan saja sudah memecahkan gelas
super mahal kesayangan beliau, membuat dokumen pekerjaan beliau rusak pula. Yaaa...Aku tau meski beliau eksentrik sangat,
tapi kalau ke mahasiswa bimbingannya baik, baiiiiiiiiiiiiiiiiiik banget. Dimanja
malah. Makanya aku semakin merasa bersalah kepada beliau.
Sesuai
dengan janji yang sudah aku buat, akhirnya aku bertemu Rika-sensei kembali.
Namun
ada satu hal yang membuatku menyadari ada yang berubah dengan meja kerja Rika-sensei.
“Sensei...kayaknya ada yang beda deh sama
meja sensei...” ucapku dengan nada
ragu kepada Rika-Sensei.
“OH...
AH... Sarah kan baru bertemu sama saya lagi kan setelah pekan kemarin yang
memecahkan gelas itu... Sebenarnya sensei
juga dimarahi dosen yang lain karena kejadian itu, apalagi soal tumpukan
yang Sarah lihat itu aslinya sudah sensei
selesaikan sejak lama. Sayanya aja
yang malas buat memberikan ke pihak yang terkait soalnya merekanya aja santai,
ya ngapain saya buru-buru setor ke mereka. Merekanya juga lambat” ujar Rika-sensei
tanpa ada perasaan keberatan atau bersalah sama sekali.
‘Sensei, sudah kuduga heuheu....’
“Nah,
ayo kita mulai bimbingannya. Habis Sarah masih ada yang mau bimbingan lagi sama
saya.” Lanjut Rika-sensei sambil
memeriksa ragangan skripsi yang telah direvisi sebelumnya.
Bimbingan
dengan Rika-sensei, meski terkadang saya
bingung kalau tiba-tiba ditanya soal isi dari skripsi, selalu menyenangkan
karena beliau selalu memberikan berbagai petunjuk mengenai apa saja yang harus
aku perbaiki. Meskipun begitu, terkadang beliau bisa benar-benar galak kalau aku
mengulangi kesalahan di titik yang seharusnya sudah diperbaiki. Selain itu, bimbingan
semakin seru karena beliau juga tahu gosip yang beredar di antara mahasiswa
sehingga kadang tidak terasa kalau sudah bimbingan selama hampir 45 menit.
Sebelum
pulang, tentu saja aku memberikan gelas yang –kuharap—bisa menjadi pengganti
gelas yang telah kupecahkan sebelum. Wajah Rika-sensei tampak senang saat melihat gelas yang kuberikan—tentu saja
berkat bantuan Dian— dan sesuai dengan selera beliau. Beliau mengucapkan terima
kasih untuk itu dan sebelum aku meninggalkan ruangan beliau, Rika-sensei memberikan sedikit nasihat
kepadaku.
“Sarah,
sensei tahu kamu itu sangat panikan
dan perfeksionis. Sensei tahu Sarah pasti
memikirkan bagaimana cara agar bisa menggantikan gelas yang pecah itu kan?
Bohong kalau sensei bilang sensei nggak apa-apa, soalnya itu ‘kan dikasih dari teman sensei. Bukan karena harganya, tapi
karena sensei tidak bisa menjaga apa yang
sudah dikasih dengan baik... dan yang penting itu Sarah baik-baik saja. Soal
gelas... mau mahal atau murah, yang penting kan fungsinya! Yang bikin mahal tuh
gengsi! Mungkin ini bakal berguna buat Sarah ke depannya, kurangi paniknya! Ingat
kamu tidak sendiri, kan? Toh dengan adanya kejadian ini sensei juga jadi belajar buat tidak menunda-nunda kerjaan lagi,
apalagi kalau sudah selesai. Sudah pulang sana. Kasihan yang lain kelamaan nunggu giliran bimbingan. Hati-hati ya!”
Aku tidak
bisa menanggapi apapun. Hanya bisa menjawab “Baik, sensei. Terima kasih masukannya!”. Namun aku merasa lega karena
ternyata Rika-sensei, meski seeksentrik itu, ternyata sebaik itu.
Mungkin
ini saatnya aku mentraktir Dian makan siang.
---selesai---
Comments
Post a Comment