Skip to main content

Iri sama aku? Yakin?

Apakah kamu pernah bertemu seseorang yang hidupnya terlihat senang-senang saja seakan tanpa beban apapun?

Banyak yang sering menganggap kalau aku, Lara, adalah seorang anak muda yang sejak kuliahnya hidup lancar tanpa beban. Yaaa itu kan apa yang dilihat orang. Aslinya? hmmmm. kalau ini terkesan sombong, biarkan ya. aku juga curhat.

Terlihat selancar apa sih kehidupan aku di mata orang?

Ini adalah info yang aku dapat dari kabar burung yang berhembus berkaitan dengan aku:
1. "Lara tuh bisa menjalankan kehidupan kuliah dan unit kegiatan mahasiswa di tingkat jurusan, fakultas, maupun universitas dengan lancar"
2. "Lara tuh pintar ngomong bahasa Jepangnya. Aku mah apa atuh, ga selancar dia. Udah gitu galak dan pelit pula. kok bisa sih kamu temenan sama Lara?"
3. "Baru juga lulus udah langsung dapat kerja dan lanjut kuliah. Pas lulus langsung dapat kerjaan yang sesuai dengan keinginannya dari jaman kuliah"
4. "Iri deh aku sama orang tua Lara. Asyik banget mau diajak jalan ke mana-mana."

HEH NDASMU! Kamu tuh ga tau aja:
1. Banyak yang harus aku korbankan untuk bisa menjalankan semuanya. 
Asal tahu saja, aku di unit kegiatan mahasiswa tingkat universitas itu sebenarnya agak dikucilkan hanya karena gak mau ikut kegiatan utamanya. Itu pun bukan murni keinginan aku, tapi karena orang tua aku tidak mengizinkan aku untuk mengikuti kegiatan tahunan utamanya. Aku masih bisa bertahan juga simpel: karena aku suka melakukan kegiatan bersama menyelaraskan irama dan nada bersama dengan jumlah orang yang banyak. 
Di Fakultas pun, nama aku berakhir dengan tidak begitu baik (menurut aku) di antara beberapa orang karena orang tua aku lagi-lagi merusak momen terakhir yang sangat penting pada saat itu. Jujur aja, aku sedih karena tidak bisa benar-benar menuntaskan amanah yang dipegang. Sudah aku coba jelaskan kalau kegiatan yang sedang aku urusi adalah momen terakhir untuk segala amanah aku pada saat itu tapi orang tuaku tidak mau tahu. Aku dipaksa pulang saat itu juga dan ternyata hanya untuk menemani makan malam bersama seseorang yang --katanya-- akan menjadi calon suami. Kalau kau tanya apakah berhasil menikah dengan orang tersebut: tentu saja tidak :)) sejak awal aku dipaksa untuk kenalan padahal saya masih ada di tempat yang harus saya selesaikan dan diakhiri dengan mood yang jelek karena memang saya TIDAK MAU.  Sudah jatuh tertimpa tangan; amanah tidak tuntas, rusak nama ini, jadi suami pun tidak. meh.
Di jurusan, untuk S1 okelah aku bisa menuntaskan amanah dan memang aku senang bertemu orang sefrekuensi di jurusan aku ini. Orang yang bicara di no.1 kebanyakan orang di jurusan yang sama dengan aku. Ya jangan salahkan aku juga lah. Lagian tiap orang punya prioritasnya masing-masing, 'kan?

hmmm tadi yang kedua apa? Kayaknya agak panjang ya. 

2. Kamu bilang aku pintar bahasa Jepang?
Ugh, kamu gak tau, aku sampai sekarang masih minder sama teman terdekat aku kalau bahas itu. Aku mungkin memang di atas kamu-kamu yang bilang kayak gitu, tapi? Bukan kayak gitu konsepnya bruh! Aku harus akui kalau aku mungkin di antara teman seangkatan di jurusan termasuk yang top tier (ceileh bahasanya) TAPI di mata dosen, aku masih biasa banget. Mau tau buktinya? Sampai sekarang aku gak pernah sama sekali diprospek buat jadi dosen di kampus tempat aku belajar ini. Apalagi aku bukan tipikal anak yang manut-manut iya-iya 100% dan jago bermuka dua. selain itu, kemampuan aku masih biasa banget kalau dibandingkan dengan teman-teman yang saya tahu siapa aja yang sebenarnya diprospek sama para dosen. Sayangnya, dosen di kampus aku gak semuanya 見る目がある。 Jadi? yaaaah gitu deh. Tapi aku juga bukan yang tidak berusaha begitu saja. Orang mungkin melihat aku tuh "wah" karena orangnya nekat. gak tau aja kalau aku sebenarnya sering banget memaksakan diri untuk mencoba. Kalau kau pikir aku terlihat lancar untuk urusan kerjaan berkaitan bahasa Jepang? nope. mana ada. buset dah. 

kayaknya tadi masih ada lanjutannya deh

oh

Udah gitu galak dan pelit pula. kok bisa sih kamu temenan sama Lara?

Ingat yaaa, tidak kenal maka KENALAN LAH bukan tak sayang atau ngajulit.
Aku memang punya wajah galak ya sebenarnya memang cara aku bertahan (menghindar) dari orang yang punya niat tidak baik sama aku. Orang yang memang kenal aku kebanyakan bakal bilang "Lara? galak? mana ada!" kemudian tertawa. 
Galak dan pelit? Gimana ga galak, kelakuan kalian semua yang bilang aku galak tuh juga meyebalkan di mata aku. Impas lah ya. Pelit? kalau ujian aku pelit wajar dong. Udah gede heh masa ujian aja sampai mencontek? malu dong. katanya gak suka sama tingkah laku dan gak mau jadi koruptor. kalau gitu coba lah minimal jujur gitu ya pas ujian. Kalau masalah keuangan, aku tuh benar-benar menghitung biaya yang keluar. aku bukan orang seloyal itu buat jajan, apalagi pas kuliah. heu. Yaaa sekarang juga masih banyak mendang-mendingnya buat jajan.
 
3. "Baru juga lulus udah langsung dapat kerja dan lanjut kuliah. Pas lulus langsung dapat kerjaan yang sesuai dengan keinginannya dari jaman kuliah"
oh kau tidak tahu saja, tekanan aku untuk melanjutkan jenjang perkuliahan tuh BESAR SEKALI. sampai sekarang aja saya masih terus disuruh lanjut kuliah kok. CAPEK TAU GA SIH????? Kalian tidak tahu aja, hampir setiap hari aku tuh stress karena lingkungan rumah aku gak bagus. Mau uji mental? silakan tinggal d rumah aku untuk waktu yang cukup lama. Saudara-saudara aku aja bahkan ga pernah tahu sisi lain bagian ini karena kebanyakan udah merantau. pls aku merantau aja susah banget dapet izinnya. hampir setiap hari aku tuh nangis cuma karena kelakuan beliau tetangga aku yang emosinya naik turun sampai aku tuh sudah merasa harus ke psikiater, tapi orang tua pasti akan marah besar kalau aku psikolog atau psikiater. untuk apa? katanya


 Untuk jenjang karir sekarang sih ya, memang sudah mulai terasa urgensinya, tapi pls kalian ga tau aja aku tuh udah capek sebenarnya. rasanya sudah ingin stop aja. bahkan aku hanya suka kegiatan utamanya aja ga suka sama administrasi dengan nama perwayangan yang ASTAGADRAGON BANYAK BANGET HELP????

4. "Iri deh aku sama orang tua Lara. Asyik banget mau diajak jalan ke mana-mana."
Gak tau aja aku hampir ga punya teman gara-gara pas masih sekolah aku tuh dikekang banget ga boleh ke mana-mana. nongkrong ga boleh, sekadar main ke bioskop sama teman sepulang sekolah aja TIDAK BOLEH. Aku tuh sebenarnya ingin sekali pas sekolah tuh sesekali nonton bareng, atau sekadar nongkrong gitu, tapi gak pernah dikasih izin sama orang tua. Pas kuliah pun terkadang orang tua aku yang menawarkan duluan. yaaa gimana ya. aku mau menolak pun tidak bisa. SUdah capek aku tuh membantah terus berakhir dengan aku yang dimarahi terus. Aku tuh baru dikasih izin untuk main saja pas kuliah. itu pun HANYA KE AKU banyak larang-larangnya. KE adik aku sih ngga segitunya ya. HA!
Sekarang pun, saat aku sudah kerja, kalau memang sedang main dan keluar dari pagi, jam 4 sore aja sudah ditanya: jam berapa pulangnyaaaaaa?
HAAAAAAAAAAAAAAA


jadi masih mau hidup seperti aku?

yakin mau menghadapi tetangga yang moodnya kayak naik roller coaster? 

sudahlah. kau tak akan sanggup menjalankannya. 

Ingat, setiap orang diberi ujian dengan porsinya masing-masing.

Aku, meski banyak banget mengeluh soal sikap orang tua aku, sebenarnya aku juga paham kok kalau mereka sayang sama aku.  ya semoga orang tua aku tetap sehat. 

Aku juga sering banget iri sama kalian yang bisa main bebas bertanggung jawab. 

Aku selalu iri sama orang yang bisa dekat secara emosional dengan orang tua, saudara, teman dekat, bahkan sama nenek sendiri. 

udah cukup mental aku aja yang rusak. kamu ga usah iri lagi ya :)

Comments

Popular posts from this blog

Tenang, Semuanya Akan Baik-Baik Saja.

Aku termenung di tengah riuhnya kantin yang dipadati para mahasiswa yang sedang mengisi perutnya setelah penatnya perkuliahan.   ‘ Sudah jam makan siang rupanya... ’ ucapku lirih. Rupanya aku sudah 2 jam duduk di salah satu sudut kantin ini. Pagi ini aku sudah berjanji akan menemui dosen pembimbingku, Rika- sensei, begitulah para mahasiswa memanggilnya,   yang terkenal akan kedisiplinan waktunya dan sangatlah....eksentrik dalam berbagai arti, seperti cara mengajar, cara bersikap, bahkan gaya berpakaiannya. Terlambat sedikit saja, maka akan sulit untuk bisa mengatur waktu agar bisa bimbingan kembali dengan beliau. Padahal bisa dibilang Rika-sensei adalah dosen muda, tapi sangat unik karena terkadang, terkadang yaaa.... gaya mengajarnya kayak dosen senior yang mengajar pada tahun 1970-an.

pertama!

hell-o? jadi ngapain ni anak bikin blog lagi? biar rajin nulis. sebuah kebohongan besar banget emang tapi gak sepenuhnya bohong kok. semoga bisa merilis cerita fiksi singkat di blog ini :)